Friday, April 21, 2017

JUKNIS LOMBA KARTINI SMA N 1 DLINGO

PETUNJUK TEKNIS LOMBA
KANGMAS DAN NIMAS 2017
SMA NEGERI 1 DLINGO

Dalam rangkan memperingati hari kartini

Urutan Acara :

  1. Semua peserta mempersiapkan diri
  2. Semua peserta akan dipanggil satu per satu untuk tampil diatas catwalk sebelum memulai perlombaan
  3. Setelah semua peserta sudah tampil diatas catwalk,peserta dipersilahkan kembali ke tempat untuk mengikuti perlombaan.
  4. Pembacaan kriteria penilaian dan nama nama dewan juri
  5. Prakata
  6. Perlombaan dimulai
  7. Pemanggil peserta dengan urut pertama dan seterusnya, setiap peserta yang tampil wajib memperkenalkan diri dan menyampaikan motto.
  8. Setelah semua peserta tampil,peserta dipanggil kembali ke atas catwalk untuk sesi tanya jawab.
  9. Sesi tanya jawab selesai, perlombaan selesai.

No
Waktu
Keterangan
1
09.00 - 09.30
Semua peserta mempersiapkan diri
2
09.30 - 09.45
Running Catwalk semua peserta
3
09.45 - 09.55
Pembacaan peraturan dan dewan juri
4
09.55 - 11.00
PERLOMBAAN
5
11.00 - 11.05
Peserta kembali naik ke atas catwalk
6
11.05 - 12.05
Tanya jawab / sesi pengetahuan
7
12.05
PERLOMBAAN SELESAI




MATERI PERLOMBAAN

RA. Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. RA. Kartini dikenal sebagai wanita yang mempelopori kesetaraan derajat antara wanita dan pria di Indonesia. Hal ini dimulai ketika Kartini merasakan banyaknya diskriminasi yang terjadi antara pria dan wanita pada masa itu, dimana beberapa perempuan sama sekali tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan. Kartini sendiri mengalami kejadian ini ketika ia tidak diperbolehkan melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Kartini sering berkorespondensi dengan teman-temannya di luar negeri, dan akhirnya surat-surat tersebut dikumpulkan oleh Abendanon dan diterbitkan sebagai buku dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Biografi Singkat Kartini
Semasa hidupnya dimulai dengan lahirnya Kartini di keluarga priyayi. Kartini yang memiliki nama panjang Raden Adjeng Kartini ini ialah anak perempuan dari seorang patih yang kemudian diangkat menjadi bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Ibu dari Kartini memiliki nama M.A. Ngasirah, istri pertama dari Sosroningrat yang bekerja sebagai guru agama di salah satu sekolah di Telukawur, Jepara. Silsilah keluarga Kartini dari ayahnya, bisa dilacak terus hingga Sultan Hamengkubuwono IV, dan garis keturunan Sosroningrat sendiri bisa terus ditelusuri hingga pada masa Kerajaan Majapahit.
Ayah Kartini sendiri awalnya hanyalah seorang wedana (sekarang pembantu Bupati) di Mayong. Pada masa itu, pihak kolonial Belanda mewajibkan siapapun yang menjadi bupati harus memiliki bangsawan sebagai istrinya, dan karena M.A. Ngasirah bukanlah seorang bangsawan, ayahnya kemudian menikah lagi dengan Radeng Adjeng Moerjam, wanita yang merupakan keturunan langsung dari Raja Madura. Pernikahan tersebut juga langsung mengangkat kedudukan ayah Kartini menjadi bupati, menggantikan ayah dari R.A. Moerjam, yaitu Tjitrowikromo.
Sejarah perjuangan RA. Kartini semasa hidupnya berawal ketika ia yang berumur 12 tahun dilarang melanjutkan studinya setelah sebelumnya bersekolah di Europese Lagere School (ELS) dimana ia juga belajar bahasa Belanda. Larangan untuk Kartini mengejar cita-cita bersekolahnya muncul dari orang yang paling dekat dengannya, yaitu ayahnya sendiri. Ayahnya bersikeras Kartini harus tinggal di rumah karena usianya sudah mencapai 12 tahun, berarti ia sudah bisa dipingit. Selama masa ia tinggal di rumah, Kartini kecil mulai menulis surat-surat kepada teman korespondensinya yang kebanyakan berasal dari Belanda, dimana ia kemudian mengenal Rosa Abendanon yang sering mendukung apapun yang direncanakan Kartini. Dari Abendanon jugalah Kartini kecil mulai sering membaca buku-buku dan koran Eropa yang menyulut api baru di dalam hati Kartini, yaitu tentang bagaimana wanita-wanita Eropa mampu berpikir sangat maju. Api tersebut menjadi semakin besar karena ia melihat perempuan-perempuan Indonesia ada pada strata sosial yang amat rendah.
Kartini juga mulai banyak membaca De Locomotief, surat kabar dari Semarang yang ada di bawah asuhan Pieter Brooshoof. Kartini juga mendapatkan leestrommel, sebuah paketan majalah yang dikirimkan oleh toko buku kepada langganan mereka yang di dalamnya terdapat majalah-majalah tentang kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Kartini kecil sering juga mengirimkan beberapa tulisan yang kemudian ia kirimkan kepada salah satu majalah wanita Belanda yang ia baca, yaitu De Hollandsche Lelie. Melalui surat-surat yang ia kirimkan, terlihat jelas bahwa Kartini selalu membaca segala hal dengan penuh perhatian sambil terkadang membuat catatan kecil, dan tak jarang juga dalam suratnya Kartini menyebut judul sebuah karangan atau hanya mengutip kalimat-kalimat yang pernah ia baca. Sebelum Kartini menginjak umur 20 tahun, ia sudah membaca buku-buku seperti De Stille Kraacht milik Louis Coperus, Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta yang ditulis Multatuli, hasil buah pemikiran Van Eeden, roman-feminis yang dikarang oleh Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek, dan Die Waffen Nieder yang merupakan roman anti-perang tulisan Berta Von Suttner. Semua buku-buku yang ia baca berbahasa Belanda.
Pada tanggal 12 November 1903, Kartini dipaksa menikah dengan bupati Rembang oleh orangtuanya. Bupati yang bernama K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat ini sebelumnya sudah memiliki istri, namun ternyata suaminya sangat mengerti cita-cita Kartini dan memperbolehkan Kartini membangun sebuah sekolah wanita. Selama pernikahannya, Kartini hanya memiliki satu anak yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat. Kartini kemudian menghembuskan nafas terakhirnya 4 hari setelah melahirkan anak satu-satunya di usia 25 tahun.
Pemikiran dan Surat-Surat Kartini
Wafatnya Kartini tidak serta-merta mengakhiri perjuangan RA. Kartini semasa hidupnya karena salah satu temannya di Belanda, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan surat-surat yang dulu pernah dikirimkan oleh Kartini kepada teman-temannya di Eropa. Abendanon kemudian membukukan seluruh surat itu dan diberi nama Door Duisternis tot Licht yang jika diartikan secara harfiah berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku ini diterbitkan pada tahun 1911, dan cetakan terakhir ditambahkan sebuah surat “baru” dari Kartini.
Pemikiran-pemikiran Kartini dalam surat-suratnya tidak pernah bisa dibaca oleh beberapa orang pribumi yang tidak dapat berbahasa Belanda. Baru pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkan versi translasi buku dari Abendanon yang diberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang: Buah Pikiran” dengan bahasa Melayu. Pada tahun 1938, salah satu sastrawan bernama Armijn Pane yang masuk dalam golongan Pujangga Baru menerbitkan versi translasinya sendiri dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Versi milik Pane membagi buku ini dalam lima bab untuk menunjukkan cara berpikir Kartini yang terus berubah. Beberapa translasi dalam bahasa lain juga mulai muncul, dan semua ini dilakukan agar tidak ada yang melupakan sejarah perjuangan RA. Kartini semasa hidupnya itu.

Thursday, October 17, 2013

ketika semua tak menuai hasil

aku ingin berucap lembut
namun,percuma
aku ingin berteriak lantang
namun,percuma
semua itu percuma sayang.
apa untuk saat ini aku harus memanggilmu sayang?
ah lupakan,lupakan sejenak.
semua itu percuma
karna pita suaraku hancur,hancur dan tak dapat bersuara
atau,bukan pita suaraku?
kau tak mau mendengarku,mungkin itu?
aku ingin berlari kencang,sekencang aku ingin melawan angin yang berhembus seiringan
namun jalan yang kujamah tak lebih lebar dari telapak kakiku
aku harus hati-hati jika tidak ingin jatuh dan merasakan sakit yang sebelumnya pernah aku rasa
namun dibelakangku aku merasakan datangnya bahaya yang membuatku harus berlari
apa?apa yang harus aku lakukan,jika semua tidak sesuai?
tidak sesuai dengan yang kau harapkan
meskipun dalam sekejap aku berdiri tepat didepanmu,mungkin itu tidak akan membuatmu menjadi baik-baik saja


#bayangan tak serupa dengan wujud yang menciptakannya

Saturday, February 25, 2012

CAWAN

kubawakan sebuah cawan kosong
wajah ku tertunduk hening
sudikah kau mengisi nya
itu nurani ku
nurani ku yang tak berisi
sudikah kau

kubawakan sebuah cawan yang telah terisi
wajah ku terangkat dengan raut kesedihan
sudikah kau membuang nya
nurani ku terjerumus
sudikah kau

cawan ku kembali kosong
wajah ku kembali tertunduk hening
sudikah kau mengisi nya
isilah cawan ku dengan kebaikan nurani
janganlah kau biarkan ku menenggak hitam nya nurani yang tak kau tau
bahwa jiwa dan raga ini berontak atas hitam nya nurani itu
tapi tangan ku ini tak dapat lepas menggenggam cawan itu
karena aku tak mungkin lepas akan nurani ku ini

sudikah kau tetap disini
aku goyah
dekaplah tangan ku ini yang perih menahan getir hitam nurani
aku takan kembali dengan hitam nya nurani ku

jikalau itu belum mampu
maka kosongkanlah cawan ku lagi

Wednesday, December 28, 2011

siapa KAU dan inilah AKU

aku takan meradang meski kau tancapkan parang
aku takan goyah meski diriku hanya sebelah
siapa KAU dan inilah AKU
apa yang nampak padamu kau tak lihat sebenar nya aku

kau yang akan gentar karna melihat ku bak halilintar
kau akan musnah karna aku akan buat mu enyah
siapa KAU dan inilah AKU
berhentilah kau mebual sebelum mulut mu ku sumpal

inilah AKU kawan
yang dulu adalah bagian dari harapan mu
yang dulu adalah korban untuk mu
ya aku tau kau tak sempurna
maka samalah kita
namun itu menjadi alasan klasik bagimu

tak sempurnanya kita bukan lah alasan
maka rubahlah itu
kawan
siapa KAU dan inilah AKU

Monday, December 19, 2011

Lembaran untuk Mu

datang lah kawan
datang lah padaku
sudah kusiapkan lembaran baru yang masih putih bersih
tulislah kisah cintamu
rangkai kisah cinta itu bersamaku
karna hanya kau lah yang kuperkenankan untuk menulisnya

ketika kau tak mampu untuk menuliskan kisah mu
maka akan kututup lembaran itu
kan kusimpan mungkin kau kan berubah pikiran
dan menulis kisah itu

Saturday, December 17, 2011

Kau dan AKU

tuhan memberi ku kesempatan
tuhan juga menyiapkan ku tujuan
dan ku tau tujuan ku lewat qalbu yang menyentuh
jauh dalam relung hati yang mengharu biru
kau tujuan ku wanitaku
peganglah erat dan genggamlah tangan ini
kan ku bawa kau berkeliling taman impian ku
yang ku bangun lewat sanubari ini yang telah mengagumimu
akan begitu sempurna ketika kau hadir lengkapi kekurangan ku
meski manusia tak mempunyai kesempurnaan itu

janganlah kau pergi
temani aku disini yang terdiam dipeluk sepi
kisahku akan terhenti jika kau tak ada dalam cerita ini
tetaplah disini bersamaku
tetap lah disini maka aku kan bahagiakan mu
meski harus ku kehilangan separuh jiwa yang ada

Thursday, November 10, 2011

sudah lama aku terdiam
terlarut
dan hening yang menyelimuti enggan pergi
ku tak akan membawa luka ini berlari
hingga ku kaparkan kan jasad ini
membiarkan nya seolah jasad yang abadi tanpa ruh
hati pun mati
jiwa pun mati

namun semua tanpa kusadari
kau tak menghendaki ya Illahi atas rintihan hati ini
karena tersayat sembilu
kau hadirkan hawa untuk menutup luka yang menganga
hingga tersirat senyum bahagia