Sudah empat tahun lalu ku meninggalkan maumere flores nusa tenggara timur,hanya bermodalkan selembar tiket perjalanan menggunakan kerimutu (sebuah kapal penumpang) selama tiga hari ku terombang ambing di tengah samudra pasifik.
Tanpa ada tujuan yang terancang jelas di benak pikiranku seolah aku hanya bongkahan tak berguna di buritan,tak seorang pun kukenal setelah kupijaki langkah berpaling dari tanah kelahiran ku aku benar-benar seorang diri.
Surabaya,disalah satu pelabuhan ku transit beberapa saat untuk sejenak menikmati panorama alam yang begitu indah yang Tuhan ciptakan sebelum aku berpaling menuju ibu kota Negara,yang munkin disana aku dapat menemukan satu hal baru,tetapi dalam perjalanan ku munuju Jakarta musibah menikamku,selembar barang berharga itu lenyap dari genggaman ku,aku sangat risau dan sangat takut,aku tidak tau apa yang akan terjadi kepadaku bila tanpa tiket tersebut seolah aku penumpang illegal diatas kapal itu,mungkin aku memang menjadi penumpang illegal.
Karna musibah itulah aku harus besahabat dengan gelang besi yang selalu jadi teman para orang-orang yang sering disebut penjahat bersama oknum keamanan.Aku hanya bisa tertunduk lesu selama benda itu melekat di pergelangan tanganku,benda itu membuat aku bukanlah menjadi seorang yang dianggap polos dan lugu karna benda itu memberikan luka yang masih melekat di pergelangan tangan kanan ku,seolah aku adalah buronan yang lepas dari sebuah rutan.
Selama diatas dek kapal aku menjadi seperti peliharaan yang dibawa majikan.Setelah beberapa waktu telah bergulir ku pijaki dermaga ibu kota Negara dengan suatu keadaan memalukan,aku tak bisa melangkah bebas layaknya seorang pelancong aku diboyong ketempat orang-orang keamanan itu mangkal,bertubi tubi pertanyaan menerpaku karna aku memang di anggap illegal tanpa selembar tiket itu,dengan keadaan yang menunjukan aku bukanlah seorang klepto atau muka seorang bringas aku dilepas tanpa mendapat jeratan hukum,tapi itu bukan akhir dari pederitaan yang akan jadi jalan ceritaku,aku tak bebas dengan pergi melangkah mudah,tapi aku dibuang seperti sampah dan serasa diasingkan oleh oknum itu.
Dari tempat aku dibuang itu aku kehilangan pacu,arahpun tak menentu terkadang angin seakan membawaku untuk menghabiskan sisa langkah-langkah ku.
Dengan kehidupan layaknya seorang penghuni jalanan aku terus mengukir jejak-jejak kaki,menumpangi kendaraan apapun yang bersedia membawaku kemanapun.dengan seperti itulah aku sampai di salah satu kota kecil di jawa tengah,Karanganyar mungkin disitulah aku mempunyai nasib cerah yang dapat kutuliskan disini.disalah satu tempat tinggal orang-orang yang mungkin pupus harapan,panti asuhan karya jasa menjadi tempat menghela nafasku,aku mungkin bisa hidup normal layaknya seorang yang jelas akan nasib nya.
Mulai dari seorang yang tau soal diriku atau yang namanya seorang teman pun mulai ada di kisahku ini. Aku sempat berkenalan dengan Zarnadi dia berasal dari papua,sudah 10 tahun Zarnadi pergi dari tanah kelahiran nya,di usia nya yang sudah kepala tiga zarnadi sangat berharap dia bisa bertemu dengan Samirah anak semata wayang nya yang rela dia tinggalkan untuk mencari istri tercinta yang sudah pergi berpaling meninggalkan nya,dan factor ekonomi yang membuat istri nya pergi meninggalkan nya. Mungkin pekerjaan Zarnadi sebagai pencari nira tidak bisa membuat Rayli istri Zarnadi puas sehingga Rayli tega meninggalkan Zarnadi dan Samirah yang kala itu usia nya baru 1 tahun.
**********
Sudah lebih dari satu bulan aku di karya jasa masalah sudah datang menghampiri ku,aku difitnah telah mencuri uang milik yayasan dan aku pun dipaksa pergi dari tempat yang mungkin bisa disebut ruang harapanku,aku kembali gamang mengukir langkah ku tanpa ada sebuah tujuan,dengan hanya bermodalkan nekat dan nyawa yang masih menyambung hidup ini aku menaiki sebuah kendaraan yang menjadi fasilitas pengantar,dan akupun pergi tanpa arah,kendaraan itu membawaku kesebuah kota yang cukup terkenal.
Yogyakarta,dikota itulah ku bernostalgia seperti waktu ku tinggalkan tanah kelahiranku maumere.Dikota itu ku kembali lagi terombang-ambing dalam sebuah peraduan nasib,sudah beberapa hari kuberjalan dengan sebuah kebingungan sempat ku bersandar di sebuah teras seseorang,dari situlah aku bertemu dengan seseorang yang mungkin melihatku dengan ketulusan hati,aku nyaris tak beda dengan orang yang sudah tidak mempunyai tingkat kesadaran,tapi Hasbie tak melihat ku seperti itu,dia mendekatiku dengan sebuah ketenangan dan senyum yang melekat indah di raut wajahnya tanpa harus berfkir apakah aku seorang yang harus diasingkan dari khalayak umum,dia memberikan segelas air mineral dan menyuruhku untuk meminum nya,dia melihat ku nampak kelelahan seperti orang yang menjadi korban romusa,Hasbie mendekatiku dan berbicara dengan ku seoalah aku adalah teman yang sudah ia kenal lama,dengan sangat ramah tamah dia menanyakan seluk beluk tentang diriku,mulai dari nama,asal ku tinggal sampai tentang sebuah keluarga.
Dia sangat santai ketika dia bercengkrama ramah dengan ku,tanpa memandangku seperti orang yang sudah tak mempunyai tingkat kesadaran,dalam setiap kata yang dia lontarkan kepadaku tak luput dari senyum indah yang selalu terpancar di rona wajah nya,tak terasa berjam-jam waktu ku habiskan dengan Hasbie,dan aku memutuskan untuk kembali mengkir langkah ku.
Ketika aku sudah cukup lama berjalan meninggalkan teras rumah itu tiba-tiba Hasbie berhenti tepat didepan ku dengan kendaraan roda dua nya,dia mengajak aku untuk kembali kerumah nya dan dirumah nya aku di beri selembar pakaian untuk menggantikan pakaian yang sudah lecek dan bau yang sudah lama aku pakai ketika aku harus pergi meninggalkan karya jasa,tidak hanya itu Hasbie pun memberiku bekal roti dan sebotol air mineral serta sejumlah uang yang mungkin bisa aku gunakan untuk naik angkutan umum,bak malaikat hasbie menolongku dia pun mengantarku untuk dapat sampai disebuah tempat pemberetihan kendaraan umum,ditempat itulah saat terakhir ku bertemu dengan Hasbie aku berharap dalam perjalanan ku hingga ku temui sang pencabut nyawa aku dapat bertemu dengan Hasbie-hasbie yang lain,yang mungkin bisa mengisi jalan harapan ku.
Aku adalah Yoseph hendrik Ferdinand yang lahir 17 agustus dua puluh empat tahun silam,aku adalah anak nomor tujuh dari delapan bersaudara,Kurniati sampai Rosnah yang menjadi buah hati Elizabeth mo`ah dan Yoseph maupasar mereka adalah ayah ibu ku.
Mungkin aku akan tetap sayang dan sangat rindu dengan mereka,walau atas apa yang mereka lakukan terhadapku tanpa aku memintanya,aku mungkin dibuang hanya karna factor ekonomi yang menjerat kehidupan di keluarga tercinta ku ini,ayahku hanyalah seorang nelayan pencari kerang yang sangat pas-pasan untuk menyambung hidup,sedangkan ibuku hanyalah seorang pencari kayu di hutan dan dia rela mempertaruhkan nyawa nya masuk kedalam hutan tanpa merisaukan bahwa nyawa sudah menjadi taruhan nya.setelah berpisah ku dengan HSasbie aku terus bejalan dan mungkin akan tetap bejalan sampai habis langkahku berpijak. Dan mungkin ini yang terus kulakukan dan inilah JALAN HARAPAN yang akan mewarnai hidup ku dan aku yakin hidup nan indah masih ada menantiku hingga ku jumpai kematian di ujung perjalananku.
No comments:
Post a Comment