Friday, January 28, 2011

Obituari iman




  Mungkin aku terlahir sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang yatim piatu, tepat 17 tahun sudah aku diizinkan untuk mengarungi nikmatnya walau selama itu aku belum pernah mendapat belaian hangat ataupun kasih sayang dari seorang ibu dan ayah kandung ku sendiri. Selama 17 tahun aku diasuh oleh mbah sastro, aku tak terlalu paham siapa mbah sastro itu dia buknlah orangtua dari ayah maupun ibu kandungku. Tapi mbah sastro sudah aku anggap sebagai bagian yang sangat penting dalam hidupku, dia sudah seperti orang tua kandungku. Mungkin aku tak begitu mengenal orang tuaku seperti aku mengenal dekat mbah sastro. Mbah sastro adalah kunci segalanya, dia mengetahui segala yang terjadi pada kedua orangtuaku hingga aku dititipkannya. Kisah ini bermula ketika aku belum diperkenankan untuk mengenal kehidupan orang tuaku adalah orang yang sangat disegani dan dihormati oleh masyarakat desa, tidak Cuma itu mungkin orangtuaku bisa dikatakan sebagai orang terkaya dan terpandang di desa.
Semua itu terlihat dari segala usaha yang orangtuaku miliki, orang tuaku adalah seorang yang mempunyai banyak usaha yang lebih menonjol adalah dalam hal pertanian, orang tuaku memiliki ratusan hektar lahan pertanian yang digunakan untuk bercocok tanam beranekaragam hasil bumi meliputi padi, jagung, ketela, dan aneka sayuran. Hamper keseluruhan pekerja yang mengurus lahan pertanian milik orangtuaku adalah warga desa dan bias dikatakan sumber nkehidupan warga desa adalah berkebun dalam perkebunan orangtuaku, mungkin karena itulah orangtuaku sangat disegani dan dihormati karena kedua orangtuaku adalah seorang juragan, tapi aku masih belum tau mengapa selama ini yang aku kenal hanyalah mbah sastro. Ada hal yang mengganjal tentang cerita mbah sastro terhadap ku,sebelum orang tuaku  bisa dikatakan sebagai juragan bahkan sebagai orang yang terhormat, ayah ku hanyalah seorang kuli bangunan dan ibu ku adalah seorang buruh cuci, dalam kehidupan orang tua ku susah adalah sebuah keadaan yang mungkin sudah menjadi rutinitas sehari-hari, bahkan untuk mempunyai rumah luas dengan segala fasilitas yang serba modern dan glamor, untuk mendapat sesuap nasi pun kedua orang tuaku harus membanting tulang dan memeras keringat seharian, bahkan terkadang masalah pun tak henti-hentinya datang menerpa orang tua ku.
Ibu ku pernah dipermalukan oleh majikannya di depan umum, dia dipukuli habis-habisan sampai seluruh tubuhnya lebam akibat hempasan-hempasan tangan tak bermoral majikan ibuku. Dia dituduh mencuri uang yang ada dalam saku salah satu pakaian yang ibu ambil untuk dicuci, padahal ibu ku tidak pernah melakukan hal tersebut. Sedangkan ayah ku pernah mengalami suatu musibah hingga dia harus merelakan mata sebelah kirinya buta,itu diakibatkan ketika ayahku sedang berusaha untuk menolong seseorang yang sedang dirampok, dia berusaha menghentikan kejadian itu dengan berkelahi melawan perompok itu, namun apa daya perampok itu melibas belati yang ia pegang dan tepat menggores mata sebelah kirinya hingga ia hanya bisa terkapar berlumuran darah sambil memegangi mata dengan kedua tangannya dan berteriak histeris.
“Aaaaahg…….!!!!! Mataku….!!!!!!!!!”
“pak... Pak.. bapak tidak apa-apa, sekarang kita kerumah sakit saja ya pak.”
Mungkin itu sudah menjadi takdir ayahku, goresan itu mengakibatkan retina ayahku koyak dan ayahku harus mengalami cacat seumur hidup. Tapi setelah keadaan ayahku kembali pulih dia pun kembali menjalani rutinitasnya sebagai kuli.
Selang waktu begitu lama ada perbaikan ekonomi dalam kehidupan orang tuaku, mereka sudah bisa membeli rumah yang begitu besar dan kendaraan yang sangat mewah yang tidak bisa dimiliki oleh seorang kuli bangunan dan buruh cuci seperti orang tuaku. Seiring dengan membaiknya keadaan ekonomi orang tuaku perlahan mereka membeli sebidang tanah dan bertambah menjadi sebuah perkebunan yang luasnya mencapai ratusan hektar dan mereka mampu merekrut ratusan pegawai untuk mengurus perkebunan tersebut.
Awalnya semua berjalan lancer tanpa ada hambatan atau masalah, semua buruh menjalani pekerjaannya dengan tenang dan tentram dan hidup cukup dengan penghasilan yang didapat dari orang tuaku. Tapi itu hanya berselang beberapa bulan, tepatnya kamis malam pak harjo mandor yang mengurusi buruh-buruh orang tuaku tewas diperkebunan, kejadian itu sangat mengenaskan pak harjo terkulai kaku dengan mata melotot dan lidah menjulur keluar serta ada goresan-goresan di leher pak harjo, tapi anehnya tak ada rasa haru yang terpancar di raut wajah kedua orang tuaku mereka hanya bersikap seolah itu hanyalah kejadian kecil yang tidak harus ditangisi, walau saat itu sedang dalam keadaan berkabung namun kedua orang tuaku tidak meliburkan seluruh buruhnya, mereka tetap bekerja seperti biasanya.
Pak Slamet adalah orang yang ditunjuk orang tuaku untuk menggantikan posisi pak harjo sebagai mandor dan mengurus seluruh buruh orang tuaku. Usaha orang tuaku sangat barkembang pesat bahkan penjualan hasil buminya sudah merambah seluruh pasar di pulau jawa. Selang waktu 2 bulan hal yang sama pun terjadi, pak Slamet mandor buruh-buruh orang tuaku tewas mengenaskan di perkebunan tepat hari kamis malam, hari yang sama ketika pak Harjo meninggal. Dan hal yang sama pun ditunjukkan oleh kedua orang tuaku, mereka hanya bersikap sangat dingin tanpa menunjukkan perasaan berduka cita.
Hal mengganjil pun mulai dirasakan para buruh orang tuaku, hingga tidak ada lagi yang mau untuk menjadi mandor, mereka merasa takut bila nasib mereka sama dengan dua mandor orang tuaku yang tewas tanpa ada alasan yang pasti, sebagian buruh pun mengundurkan diri hingga dua bulan kemudian kejadian itupun menimpa ayahku, dia tewas di perkebunan dengan melotot dan lidah menjulur keluar serta ada goresan-goresan dilehernya, sedangkan ibu meninggal 1 minggu setelah kematian ayah karena melahirkanku, ibuku mengalami pendarahan parah hingga kematian merenggut nyawanya.
Maka dari itu aku dirawat oleh mbah sastro salah seorang yang pernah mengabdi kepada orang tuaku. Orang tuaku adalah seseorang yang ingin cepat mendapatkan kekayaan, pesugihan lah yang mereka lakukan agar mereka dapat kaya dengan cepat dengan tumbal mendor para buruh. Itu terlihat di setiap sepeninggal mandornya orang tuaku menaruh sajen ditempat kejadian.
Setelah sepeninggal orang tuaku, aku dirawat oleh mbah sastro. Kini aku sudah dewasa, aku hanya bisa mengambil hikmah dari kisah kedua orang tuaku untuk menjadikanku insan yang lebih baik.

No comments:

Post a Comment